Kisah J.M. Pattiasina dan Awal Perjuangan Membangun Industri Minyak Indonesia

- Penulis

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ambon, Indolensa — Tahun 1957 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan industri minyak Indonesia. Di tengah keterbatasan sumber daya dan kondisi ekonomi negara yang belum stabil, lahir Permina yang kelak berkembang menjadi bagian dari sejarah panjang berdirinya PT Pertamina.

Namun, menurut tokoh muda Maluku, Verry Jacob, sejarah tersebut tidak hanya berbicara tentang berdirinya sebuah perusahaan minyak. Di baliknya terdapat kisah perjuangan sejumlah tokoh yang menurut dia rela mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan harta pribadi demi membangun fondasi industri energi nasional.

Salah satu nama yang disebut Jacob adalah Brigadir Jenderal TNI J.M. Pattiasina.

“Pada 10 Desember lahirlah Permina. Tetapi saat itu negara menghadapi kondisi yang sangat berat. Belanda pergi meninggalkan fasilitas yang terbatas, sementara negara membutuhkan sumber daya untuk menggerakkan perekonomian,” kata Jacob kepada sejumlah awak media di Ambon, Minggu (9/8/2026).

Jacob menuturkan, ketika situasi politik dan keamanan Indonesia tengah bergejolak, Presiden Direktur Permina Ibnu Sutowo membutuhkan sosok yang tidak hanya memahami birokrasi, tetapi juga memiliki kemampuan teknis dan kepemimpinan lapangan.

Menurut dia, pilihan kemudian jatuh kepada J.M. Pattiasina.

“Beliau bukan hanya memahami taktik, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai teknologi dan proses industri minyak,” ujarnya.

Jacob mengatakan salah satu tantangan besar Pattiasina terjadi ketika ia menghadapi kondisi Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, pada 1958.

Menurut cerita yang disampaikan Jacob, fasilitas industri yang ada saat itu berada dalam kondisi memprihatinkan. Keterbatasan peralatan dan anggaran menjadi persoalan utama.

Namun, Pattiasina disebut memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

Jacob menyebut ada tiga langkah utama yang dilakukan Pattiasina dalam menghadapi situasi tersebut.

Pertama, mengandalkan kreativitas untuk mengatasi keterbatasan anggaran. Peralatan yang tersedia diperbaiki dan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan produksi.

“Pattiasina menyulap berbagai material yang tersisa menjadi bagian dari mesin produksi. Ia bekerja seperti seorang dokter yang membedah dan menghidupkan kembali mesin-mesin yang sudah dianggap tidak berguna,” kata Jacob.

Kedua, memberantas pencurian material dan aset industri.

Jacob mengatakan saat itu sejumlah pipa dan besi yang merupakan bagian dari fasilitas industri diduga dicuri dan diperjualbelikan.

Menurut Jacob, Pattiasina kemudian melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat untuk mengembalikan material tersebut.

“Pesannya jelas, kembalikan besi itu karena itu bagian dari aset negara. Ratusan ton material kemudian kembali. Bagi saya, itu merupakan kemenangan moral sebelum kemenangan produksi,” ujarnya.

Ketiga, membangun sumber daya manusia.

Jacob mengatakan Pattiasina tidak hanya berfokus pada perbaikan fasilitas, tetapi juga mendorong pelatihan pemuda setempat agar memiliki keterampilan teknis.

“Pemuda-pemuda desa dilatih menjadi teknisi. Jadi yang dibangun bukan hanya kilang, tetapi juga kader bangsa yang kelak menjadi tenaga penggerak industri energi Indonesia,” katanya.

Namun, menurut Jacob, persoalan terbesar justru muncul ketika kas negara dalam kondisi sangat terbatas.

Pekerja membutuhkan upah, mesin membutuhkan bahan bakar, sementara kegiatan produksi harus tetap berjalan.

Dalam kondisi tersebut, Jacob mengungkap kisah yang menurutnya selama puluhan tahun jarang dibicarakan kepada publik, yakni mengenai dugaan pengorbanan harta pribadi J.M. Pattiasina.

Menurut cerita yang disampaikan Jacob, Pattiasina pada suatu malam mengambil sertifikat tanah dan rumah miliknya untuk dijadikan jaminan guna memperoleh dana bagi kebutuhan operasional.

Putrinya, Engelina, disebut menyaksikan peristiwa tersebut.

Jacob mengutip pesan yang menurutnya disampaikan Pattiasina kepada putrinya mengenai pengorbanan untuk kepentingan negara.

“Jika kita mencintai tanah air, kita wajib mengorbankan segala yang kita miliki. Bahkan jika nyawa ini harus melayang, itu adalah ongkos yang murah untuk kemerdekaan sejati,” kata Jacob, mengutip kisah tersebut.

Menurut Jacob, Pattiasina rela menggadaikan harta keluarga karena kondisi negara saat itu membutuhkan suntikan dana.

“Rumah bisa diganti, tetapi martabat bangsa tidak boleh hilang,” ujarnya.

Jacob melanjutkan, kebutuhan pendanaan tidak berhenti pada pengorbanan harta pribadi.

Pattiasina kemudian disebut mencari dukungan modal dari luar negeri bersama sahabatnya, Tong Djoe.

Menurut Jacob, keduanya melakukan perjalanan ke Singapura untuk menemui sejumlah pengusaha dan taipan yang diharapkan dapat memberikan dukungan pembiayaan.

Dalam kisah yang disampaikan Jacob, pertemuan itu berlangsung di sebuah tempat sederhana di sekitar Orchard Road.

Ia mengatakan Engelina yang ketika itu masih kecil turut berada di sekitar lokasi bersama Tong Djoe.

“Engelina menyaksikan bagaimana ayahnya berusaha mendapatkan modal untuk menyelamatkan kegiatan industri minyak Indonesia,” kata Jacob.

Menurut Jacob, upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dan pendanaan dapat diperoleh.

Jacob menyebut 24 Mei 1958 sebagai salah satu tanggal penting dalam kisah yang ia sampaikan.

Pada momentum tersebut, menurut dia, kegiatan produksi di Pangkalan Brandan kembali berjalan.

“Mesin-mesin di Pangkalan Brandan kembali mengaum. Kilang yang sebelumnya berada dalam kondisi sulit mulai berproduksi,” ujarnya.

Jacob menyebut produksi tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya Indonesia memasuki pasar minyak dunia dan memperoleh pemasukan dari sektor energi.

Bagi dia, momentum tersebut tidak sekadar persoalan industri.

“Ini adalah bentuk proklamasi ekonomi. Indonesia menunjukkan bahwa kita bisa berdiri dengan kekuatan sendiri,” katanya.

Menurut Jacob, Pattiasina tidak menjadikan pengorbanan pribadinya sebagai alat untuk mencari popularitas.

Ia bahkan disebut tidak pernah menuntut penggantian atas pengorbanan tersebut.

“Pattiasina mengubur kisah itu dalam-dalam. Ia tidak ingin pengorbanannya dianggap sebagai upaya mencari panggung,” kata Jacob.

Jacob menilai kisah tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi generasi sekarang mengenai arti pengabdian kepada negara.

Menurutnya, aset energi nasional yang dibangun melalui perjuangan dan pengorbanan generasi terdahulu harus dijaga sebagai kekayaan negara.

Memasuki peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jacob mengajak masyarakat melihat kembali sejarah perjuangan pembangunan industri nasional.

Ia mengatakan perjuangan membangun industri minyak Indonesia tidak semestinya berhenti pada nostalgia sejarah.

“Di usia 81 tahun kemerdekaan ini, aset-aset Pertamina yang dibangun dengan air mata dan pengorbanan harus menjadi benteng kekayaan bangsa,” ujarnya.

Jacob juga mengingatkan pentingnya menjaga aset negara dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Menurut dia, tantangan bangsa saat ini tidak lagi hanya berbentuk penjajahan fisik, tetapi juga korupsi dan praktik yang merugikan kepentingan negara.

“Pattiasina merelakan atap rumahnya agar negara berdiri kokoh. Hari ini, jangan biarkan para perampok negara merobohkan atap itu lagi,” tegasnya.

Ia mengajak generasi muda menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat menjaga kekayaan negara.

“Korupsi adalah musuh bersama yang lebih keji dari penjajah. Mari sambut HUT ke-81 ini dengan tekad mengembalikan martabat Pertamina dan memulihkan harga diri bangsa,” pungkas Jacob.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Dihadiri Ketua Puskominfo Jatim, Rumah Rehab Compok Bersinar Bangkalan Gelar Tasyakuran dan Komitmen Berantas Narkoba
CSR 2026, Socfindo Kebun Seunagan Salurkan Beasiswa kepada 100 Orang
Jaga Kebugaran, Warga Binaan Rutan Kelas I Surabaya Antusias Ikuti Senam Aerobik Rutin
Polres Bojonegoro Gelar Khataman Al-Qur’an, Rajut Tobat di Balik Jeruji
REHABILITASI IRIGASI CIPAMATUTAN RAMPUNG, DINAS PU KABUPATEN SUKABUMI PULIHKAN PENGAIRAN 54 HEKTARE SAWAH
Kapolres Nagan Raya Temu Ramah dengan Tokoh Masyarakat Beutong, Perkuat Silaturahmi dan Sinergitas
Kapolres Nagan Raya Gelar Bakti Sosial dan Pelayanan Kesehatan Gratis bagi Masyarakat Beutong
SOLIDARITAS KELUARGA BESAR ASMIPA, ASMIPA PEDULI SALURKAN DONASI UNTUK MAS FAIZ

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 20:48 WIB

Dihadiri Ketua Puskominfo Jatim, Rumah Rehab Compok Bersinar Bangkalan Gelar Tasyakuran dan Komitmen Berantas Narkoba

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:57 WIB

CSR 2026, Socfindo Kebun Seunagan Salurkan Beasiswa kepada 100 Orang

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:56 WIB

Jaga Kebugaran, Warga Binaan Rutan Kelas I Surabaya Antusias Ikuti Senam Aerobik Rutin

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:51 WIB

REHABILITASI IRIGASI CIPAMATUTAN RAMPUNG, DINAS PU KABUPATEN SUKABUMI PULIHKAN PENGAIRAN 54 HEKTARE SAWAH

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:34 WIB

Kapolres Nagan Raya Temu Ramah dengan Tokoh Masyarakat Beutong, Perkuat Silaturahmi dan Sinergitas

Berita Terbaru