Ambon, Indolensa – Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, menegaskan bahwa persoalan stunting masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Hal itu disampaikan Pangdam saat berbincang bersama awak media di Kota Ambon, Rabu (1/7/26). Ia mengatakan TNI AD, khususnya Kodam XV/Pattimura, terus berupaya mendukung program nasional percepatan penurunan stunting melalui berbagai kegiatan sosial yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Stunting adalah persoalan bangsa. Pemerintah sudah berupaya keras, dan kami di Kodam XV/Pattimura menjadi bagian dari program nasional tersebut. Kami berusaha membantu sesuai kemampuan yang kami miliki,” ujar Dody.
Dody mengungkapkan bahwa salah satu program yang kini dijalankan adalah pendampingan dan pemberian bantuan gizi kepada anak-anak yang terindikasi mengalami stunting.
Program tersebut dilaksanakan secara rutin dua kali setiap bulan oleh Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang Ambon yang dipimpin Ketua Persit, Ny. Dody Triwinarto.
Menurut Pangdam, seluruh sasaran telah didata sehingga bantuan dapat disalurkan secara berkesinambungan.
Ia menegaskan kepada Ketua Persit agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan dilakukan secara konsisten.
“Saya bilang kepada istri saya, program ini harus kontinu dan konsisten. Jangan hanya sekali, tetapi terus berjalan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.”
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Kodam XV/Pattimura mengalokasikan dana internal sekitar Rp20 juta setiap bulan yang digunakan untuk pelaksanaan dua kali kegiatan pemberian bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan.
Pangdam menyebutkan, dalam satu bulan pelaksanaan, program tersebut telah menjangkau sekitar 280 anak yang mendapatkan pendampingan dan bantuan gizi.
Ia memastikan kegiatan itu akan terus dilaksanakan selama masih dibutuhkan masyarakat.
“Insya Allah kami konsisten. Selama kami mampu, program ini akan terus berjalan,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat, Kodam XV/Pattimura juga menghadirkan dua kendaraan layanan sosial yang diberi nama Mobil Senyuman Sahabat Persit Pattimura.
Kendaraan berwarna hijau tersebut akan digunakan oleh Persit Kartika Chandra Kirana Cabang Ambon sebagai sarana pelayanan kesehatan dan bantuan sosial kepada masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi sasaran program penanganan stunting.
Menurut Pangdam, kehadiran kendaraan tersebut diharapkan memudahkan distribusi bantuan sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.
“Kalau mobil itu datang, kami ingin masyarakat melihatnya sebagai kendaraan yang membawa senyum dan harapan bagi anak-anak,” ujarnya.
Selain program stunting, Pangdam juga menuturkan bahwa kepedulian sosial telah menjadi bagian dari kegiatan kemanusiaan yang selama ini dilakukan Kodam XV/Pattimura.
Ia mengaku sejak awal bertugas di Maluku rutin menggelar kegiatan berbagi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, membantu sesama tidak selalu harus menunggu adanya anggaran khusus dari pemerintah.
Yang terpenting, kata dia, adalah adanya kemauan untuk berbagi.
“Tidak harus ada anggaran besar. Yang paling penting adalah niat kemanusiaan. Kalau setiap orang yang memiliki kemampuan mau menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu satu orang saja, saya yakin jumlah masyarakat yang mengalami kesulitan akan semakin berkurang.”
Ia berharap semangat gotong royong dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat sebagai pelengkap berbagai program pemerintah dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan stunting.
Pernyataan Pangdam XV/Pattimura menunjukkan bahwa pendekatan penanganan stunting tidak hanya dilakukan melalui aspek kesehatan, tetapi juga melalui gerakan sosial yang melibatkan organisasi kemasyarakatan, keluarga besar TNI, dan masyarakat.
Program Mobil Senyuman Sahabat Persit Pattimura menjadi contoh pendekatan berbasis pelayanan langsung kepada masyarakat. Selain membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak, program ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi, pemantauan tumbuh kembang anak, dan pola hidup sehat.
Meski demikian, upaya penurunan stunting tetap memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, hingga masyarakat. Keberlanjutan program dan ketepatan sasaran menjadi faktor penting agar intervensi yang dilakukan benar-benar berdampak terhadap penurunan angka stunting di Maluku.












