Politisasi Identitas oleh Politisi

Menjelang pemilihan umum yang sudah hampir mendekati masa kampanye. Banyak politisi yang mencoba untuk mencuri-curi start dalam mencari dukungan. Saat ini para politisi sudah mulai menguatkan isu-isu yang laku di masyarakat menjadi produk yang di jual untuk meningkatkan brending atau nama baik dari politisi tersebut. Tidak heran politik identitas ini menjadi sejata utama para politisi yang menjadi ujung tombak dalam meraih suara dukungan rakyat. Karena politik identias ini sangat diperlukan oleh para politisi sebagai investasi dukungan.

Politik identitas ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari kelompok atau individu tertentu. Sehingga mereka merasa diayomi atau di perhatikan lebih. Contohnya, ada seorang politisi yang ingin diakui oleh para petani, karena di daerah tersebut mayoritasnya petani. Jadi politisi tersebut bermanuver untuk mencari isu-isu tentang pertanian, yang sangat sensitif di daerah tersebut. Seperti isu pupuk langka. Selanjutnya politisi tersebut berusaha untuk menyelesaikan dari permasalahan-permasalahan akibat pupuk langka. Biasanya politisi itu tidak pernah berkecimpung di dalam bidang pertanian, tetapi demi untuk mendapatkan dukungan dari para petani, politisi tersebut pasang badan agar diakui dan dianggap pahlawan. Sehingga para petani merasa berhutang budi, dan akan mendukung politisi tersebut atas jasa yang telah dilakukannya.

Bacaan Lainnya

Politik identitas ini juga sangat sensitif terhadap suku, ras, adat, dan antar golongan (SARA). Namun hal ini dijadikan sebagai isu yang paling hangat di masyarakat. Akibat dari isu SARA ini dapat menyulut konflik dari antar kelompok atau individu yang secara berkelajutan. Akibat dari politisasi tersebut secara tidak langsung telah menggiring kelompok lain agar saling bersaing demi kepentingan masing-masing kelompok dalam memperjuangankan politisinya untuk mendapat suatu jabatannya. Maka ketika politisi tersebut duduk dikursi kekuasaan otomatis politisi itu menjalankan roda kepemerintahannya dengan menganaktirikan kelompok yang tidak mendukungnya. Seperti fasilatas umum yang tidak diberikan kepada kelompok tertentu.

Politik identitas ini juga bukan hanya untuk mendapat dukungan dari masyarakat saja, namun politik identitas ini dapat dijadikan membuka ruang berkoalisi dengan kekuatan politik lainnya. Politisi tersebut dengan sengaja berkompetisi dan menjual isu yang saling berkaitan untuk menarik perhatian masyarakat. Namun setelah permasalahan isu tersebut memuncak mereka berkoalisi. Strategi politik identitas ini sering digunakan untuk mendapatkan koalisi.

Untuk mencerahkan masyarakat bahwasannya tidak semua politik identitas itu buruk dan juga tidak semua politik identitas itu baik. Semua pihak lembaga terkait dan pemuda maupun mahasiswa, harus ikut andil dalam mengawasi isu-isu yang membawa perpecahan dan menetralisir konflik yang memanas di masyarakat.

Politik identitas memang tidak bisa dihindari, tetapi politik identitas bisa dijadikan sebagai jembatan untuk persatuan dan kemajuan, apabila politisi membawa isu ini kearah yang positif, bukan hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok saja, tetapi kepentingan bersama untuk memajukan suatu daerahnya. Agar tidak terjadi perpecahan yang mengakibatkan kemunduran suatu daerah karena konflik yang tiada habisnya.

Namun pada saat ini dalam mengahadapi pesta demokrasi menjelang pemilu dan pileg, sangat sensitif di Aceh Tenggara. Isu-isu SARA cendrung dijadikan sejata utama yang akan bergema di mana-mana. Biasanya politisi seperti ini adalah politisi yang tidak mempunyai gagasan progresif dan integritas. Karena tidak ada yang bisa dijual di masyarakat, sehingga menggunakan atau menjual isu semboyan tanoh alas “Aceh Tenggara miniaturnya Indonesia” dalam kampanyenya demi meraih suara. Jangan sampai suku adat yang ada di Aceh Tenggara dipolitisasi, kemudian mengakibatkan terpecah-belahnya masyarakat.

Untuk para politisi Aceh Tenggara jangan sampai mejadikan isu SARA sebagai senjata utama dalam menggarap lumbung suara. Karena dapat menanam duri dalam daging yang berkepanjangan untuk masa depan Aceh Tenggara. Dalam konteks tahun politik tanpa jeda ini, senantiasa seluruh lapisan masyaraka di Aceh Tenggara terus menjaga nilai-nilai persatuan yang ada di Aceh Tenggara, walaupun berbeda pandangan politik namun tetap satu tujuan dalam memajukan dan mensejahterahkan masyarakat sepakat segenep. Ingat, politik itu hanya cara. Persatuan dan persaudaraan akan mengalir hingga ke anak cucu di kemudian harinya.

banner banner

Pos terkait