Kemiskinan Guru di Indonesia : Masih Mau Jadi Guru?

Oleh : Rohit Rahmadani, Sekolah Kita Menulis (SKM) Cabang Langsa / Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Guru merupakan seorang tenaga pendidik yang mencetak penerus bangsa yang maju dan berkompeten untuk kemajuan sebuah negara. Kehadiran guru membuat penerus bangsa lahir dan tumbuh berkembang seiring berjalannya waktu dan dapat berkontribusi dengan jenjang pendidikan yang dibentuk kedalam satu program atau biasa dikenal sebagai kurikulum.

Menurut Badan Pusat Statistik, ada sekitar 3,37 juta guru di Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah guru di Indonesia naik 2,70% dari jumlah guru di tahun 2022/2023.

Bacaan Lainnya

Artinya, profesi guru menjadi salah satu profesi dengan tingkat persentase yang tinggi mencetak guru setiap tahunnya. Jika melihat dari jumlah guru yang setiap tahun meningkat, apakah ini menjadi salah satu faktor utama dari kemiskinan guru di Indonesia? Atau ada faktor lain yang membuat profesi guru ini kurang sejahtera?
Berdasarkan data Kemendikbud tahun 2022, jumlah guru dan tenaga kependidikan menurut usia sekitar 6,9 ribu guru dengan usia rata-rata dibawah 20 tahun, sejumlah 633,2 ribu guru dengan usia rata-rata 20-29 tahun, sejumlah 995,1 ribu guru dengan usia rata-rata 30-39 tahun, sejumlah 793,6 ribu guru dengan usia rata-rata 40-49 tahun, sejumlah 870,7 ribu guru dengan usia rata-rata 50-59 tahun, sejumlah 51,9 ribu guru dengan usia rata-rata 60-65 tahun, sejumlah 6,5 ribu guru dengan usia rata-rata diatas 65 tahun. Jika dilihat dari data Kemendikbud, usia dengan jumlah guru terbanyak ada di usia 30-39 tahun dan 50-59 tahun. Apakah ini juga termasuk salah satu faktor kemiskinan guru dikarenakan jarak umur guru yang dapat mempengaruhi kesejahteraan guru? Atau umur mempengaruhi kualitas dari guru?
Jika melihat dari jumlah guru layak mengajar di tahun 2017-2018 menurut Badan Pusat Statistik, sejumlah 2,4 juta guru layak mengajar, di tahun 2018-2019 sejumlah 2,6 juta guru layak mengajar, di tahun 2019-2020 sejumlah 2,7 juta guru layak mengajar, di tahun 2020-2021 sejumlah 2,9 juta guru layak mengajar. Dari persentase guru layak mengajar dapat dilihat ada peningkatan setiap tahunnya sebesar 9,6%. Namun, bagaimana bisa kesejahteraan guru tidak kian dipenuhi?
Jika dilihat dari pendapatan guru, tentunya ada klasifikasi golongan guru yang Honorer dan Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan besaran UMP dan UMK. Secara umum, untuk guru sekolah dasar rata-rata pendapatan guru honorer bervariasi tergantung di daerah tempat guru mengajar. Di kota besar seperti Jakarta, gaji guru Sekolah Dasar honorer berkisar antara 1,5 juta sampai 2 juta per bulan. Sementara itu, jika dilihat di kota lain secara umum gaji guru Sekolah Dasar berkisar 300 ribu sampai 1,5 juta per bulan. Bahkan di suatu daerah tertinggal, gaji guru hanya 200 ribu untuk beberapa bulan atau bahkan pernah tidak digaji.

Orip Atte salah satu guru di Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Takari, Kabupaten Kupang mengatakan bahwa ada sekitar 12 guru yang mengabdi di daerah tersebut. Kurangnya pendapatan UMP (Upah Minimum Provinsi) yang membuat guru di daerah tersebut lantas digaji sangat rendah. Bahkan tidak layak disebut gaji, melainkan upah seikhlasnya. Hal ini sering terjadi di daerah 3 T (tertinggal, terdepan dan terluar), namun sampai saat ini tidak ada resolusi dari pemerintah mengenai masalah ini.

Berdasarkan data yang sudah saya jelaskan, baik dari jumlah guru yang setiap tahunnya naik sampai 2,70% di tahun 2022/2023, jumlah guru yang layak belajar kian meningkat 9,6%, dan usia produktif tertinggi 30-39 tahun, dengan pendapatan yang rendah, sebenarnya dimana letak permasalahan dari kemiskinan bagi guru di Indonesia? mengapa sulit sekali bagi guru di Indonesia untuk sejahtera dalam hal kecukupan? saya tegaskan sekali lagi, ini ditekankan kepada guru yang honorer. Apakah guru honorer tidak dinilai di negara ini? Atau hanya guru dengan golongan saja diberi pendapatan yang layak?
Menurut pendapat saya, sebenarnya ada beberapa poin mengapa kemiskinan guru di Indonesia kian menjadi masalah utama. Pertama, pemerintah tidak dapat memberikan wadah yang cukup untuk jumlah calon guru yang akan berprofesi menjadi tenaga pendidik ini. Ada sekitar 3,37 juta guru di tahun 2022/2023 yang dimana sejumlah 2,36 juta guru berstatus honorer. Jika dilihat dari jumlah guru di tahun itu, tidak sampai setengah dari jumlah total guru yang ada. Walaupun sudah ada program untuk guru honorer seperti P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Program P3K dimulai sejak 2019 sampai saat ini, artinya sudah berjalan 4 tahun. Tujuan dari program P3K ini sudah bagus, mengapa saya katakan bagus? Karena program P3K ini, bertujuan untuk memudahkan guru honorer mendapatkan status ASN (Aparatur Sipil Negara) yang artinya dapat mengurangi jumlah guru honorer.

Solusi diterapkan oleh pemerintah sudah bagus. Tetapi jika dilihat dari data yang ada, jumlah guru honorer masih saja begitu banyak. Apalagi program P3K ini dibuka satu tahun sekali. Ditahun 2021 sejumlah 293. 860 guru yang diangkat menjadi ASN PPPK, ditahun 2022 sejumlah 319,029 guru yang diangkat menjadi ASN PPK. Jika dilihat dari data, ada peningkatan jumlah guru yang diangkat dari status honorer ke ASN PPPK. Dari pemecahan solusi yang dilakukan pemerintah sudah baik, tetapi perlu diingat bahwa jumlah guru honorer lebih besar jika dilihat dari tahun ke tahun. Artinya apa? Pemerintah harus memikirkan cara lain agar guru dengan status honorer ini diberikan pendapatan yang layak. Jangan hanya guru yang berstatus ASN saja, guru honorer juga dipikirkan baik dari pendapatan dan juga kesesuaian kerja. Terkadang, guru honorer bekerja begitu lelah dari jam ke jam tetapi tidak sesuai dengan hasil yang mereka dapatkan. Cobalah pemerintah pikirkan, bukan hanya guru ASN PPPK saja yang diberikan kelayakan, tetapi guru honorer juga. Mengingat pemerintah masih belum mampu menyediakan wadah yang cukup untuk para guru.

Poin kedua, Struktur kerja yang tidak ballencing (setara) oleh guru berstatus honorer dan guru berstatus Aparat Sipil Negara (ASN). Mengapa saya katakan struktur kerja yang tidak setara? Saya pertegas, bahwa saya tidak mendiskriminasikan guru ASN. Tetapi kenyataannya dilapangan, guru yang lebih banyak kerja itu adalah guru honorer. Guru yang lebih atraktif dan inovatif kebanyak guru honorer. Mengapa? Karena guru honorer mengejar jam kerja, perolehan gaji dari berapa jam dalam satu hari, yang membuat para guru honorer berlomba-lomba untuk mengejar jam kerja. Bagaimana dengan guru ASN? Semasa saya sekolah dahulu, guru ASN jarang sekali datang di pertemuan kelas, kebanyakan digantikan oleh guru honorer. Terkadang, jam kerja guru ASN tidak seperti guru honorer. Bergantung pada jam kerja, guru ASN lebih fleksibel dalam jam kerja karena gaji guru ASN sudah ditetapkan oleh negara. Seharusnya, berikan kesetaraan jam kerja guru honorer dan guru ASN, sekaligus berikan upah yang masuk akal untuk guru honorer.

Poin ketiga, perbedaan waktu gaji honorer dan guru ASN. Saya juga tegaskan, bahwa tidak semua sekolah saya generalisasikan adanya perbedaan waktu gaji honorer dan guru ASN. Saya melihat di masa saya sekolah dahulu, bahwa gaji guru ASN sudah ditetapkan oleh pemerintah, namun gaji honorer tidak demikian. Sering terjadi kasus guru honorer diberikan gaji 3 bulan sekali disaat pencairan dana bos, ada juga yang sebulan sekali. Hal ini membuat kesejahteraan guru honorer buruk, mengapa? Karena dengan ditundanya gaji guru mempengaruhi kebutuhan guru yang tidak sesuai dengan upah tersebut. Di sekolah saya dahulu, banyak guru yang ambil kerja tambahan sebagai guru bimbel, privat atau bahkan berjualan untuk memenuhi kebutuhannya. Mengapa itu bisa terjadi? Karena upah yang diberikan tidak sesuai ditambah waktu gajian yang tidak tetap.

Poin terakhir, yaitu tidak ada jaminan yang diberikan pemerintah untuk guru honorer seperti guru ASN. Memang betul, bahwa harus menjadi guru ASN terlebih dahulu baru bisa diberikan jaminan. Tetapi setidaknya, jaminan dalam hal lain juga harus dilakukan oleh pemerintah. Seperti reward atau penghargaan untuk guru honorer yang menjalankan tugasnya secara baik, berikan pujian yang membuat guru honorer menjadi semangat dalam menjalankan tugasnya walaupun pemerintah tidak mampu memberikan gaji guru yang layak.

Terdapat 4 poin utama yang menyebabkan kemiskinan guru di Indonesia semakin meningkat menurut saya. Ayolah, pemerintah lakukan kebijakan baru yang membuat semangat guru meningkat. Guru itu seperti rautan pensil, yang ujungnya tumpul itu adalah muridnya.

Artinya apa? Karena ada gurulah negara ini bisa maju, karena ada murid yang pintar dapat membuat bangunan yang tinggi, teknologi yang canggih, jalan yang bagus dan pondasi yang kokoh. Mengapa Finlandia dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik? Amerika dengan pendidikan yang paling maju?Karena kedua negara tersebut menghargai profesi guru dengan memberikan pendapatan yang layak, membuat guru juga sadar untuk meningkatkan kualitas dirinya dan mempengaruhi sistem pengajaran kepada murid.

Satu pesan saya untuk para guru di Indonesia, tetap semangat dalam memberikan pembelajaran kepada murid, salah satunya saya pernah menjadi murid. Terimakasih sudah memberikan metode pembelajaran yang sangat baik. Sehingga saya mampu menulis artikel ini dengan penuh emosi yang dalam, kalian adalah aset negara yang harus diberikan kelayakan dalam hal pendapatan. Untuk pemerintah, berikan resolusi segera mungkin. Nasib guru mempengaruhi kualitas dari penerus bangsa kepedepan.

banner banner

Pos terkait