Problematika Pendidikan Daerah Terpencil di Aceh Tenggara

Oleh Leonardo D Sihombing, Mahasiswa Universitas Gunung Leuser Aceh

Sungguh menyedihkan saat menyelami perkembangan pendidikan di kawasan terpencil di Aceh Tenggara khususnya di desa Naga Timbul Kecamatan Leuser. Hal ini didasari oleh kurangnya layanan pendidikan yang dirasakan pelajar setempat. Mereka sangat berharap dan mengharapkan suasana sesungguhnya dari apa itu pendidikan. Namun yang terjadi, mereka tidak mendapatkan apa arti dan bagaimana pendidikan sebenarnya. kebijakan dan kepedulian lembaga yang terkait, termasuk pemerintah daerah dan dinas pendidikan Aceh Tenggara yang banyak tertidur dan buta akan keadaan dan situasi pendidikan di sana. Dimulai dari fasilitas dan tenaga mengajar menjadi problen utama.

Masyarakat setempat merasa dianaktirikan atas keberadaan mereka sebagai warga Aceh Tenggara. Padahal berbicara tentang Kecamatan Leuser, daerah ini menjadi daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun, itu hanya berita inspirasi kosong belaka, jika kekayaan SDA tidak sebanding dengan SDM. Hal yang dimaksud dengan SDM pasti erat hubungannya dengan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Problematika pendidikan inilah yang dialami oleh generasi setempat khususnya para pelajar. Pelajar setempat merasakan pendidikan itu seakan-akan hanya sebatas rutinitas saja tanpa mengenal lebih dalam esensi dari pendidikan tersebut. Rutinitas yang dimasud adalah hanya sebatas mengenakan seragam dan menginjakkan kaki di sekolah serta pulang kerumah masing-masing tanpa mendapatkan asupan ilmu dasar yang memadai.

Disisi lain, tenaga pendidik yang lebih dikenal dengan guru berada diposisi seperti buah simalakama. Dimulai dari infrastuktur yang kurang layak, membuat guru-guru kewalahan di perjalanan. Hal ini juga yang memaksa mereka harus berpikir untuk meletakkan peran mereka sebagai guru atau yang sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Keadaan ekonomi yang mengarah kepada sebutan gaji tidak sebanding dengan pengeluaran membuat mereka sebagai tenaga pendidik tidak mengetahui berbuat apa lagi. Di satu sisi mereka harus merasiokan pengeluaran seperti biaya transportasi dan konsumsi dengan honor/pemasukan yang diterima. Di sisi lain, jarak tempuh yang cukup lama beresiko pertemuan dan proses belajar mengajar pun cenderung mengalami kendala hingga berakhir kurangnya efisiensi pembelajaran.

Kesenjangan ini juga, membuat wali murid setempat lebih memilih menyekolahkan anaknya keluar daerah. Memang ini merupakan suatu hal yang wajar dalam memperjuangkan hak pendidikan anak. Inilah yang terjadi setiap putaran waktu, hari demi hari, sehingga anak-anak disana bosan dengan tradisi pendidikan yang harus dijalani. Kalau sudah seperti ini siapa yang salah ? Apakah bisa di vonis ini semua kesalahan tenaga pendidik atau pelajar disana ?

banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *